Belajar menurut Ausabel, mengandung pengertian:
(1) Belajar merupakan cara informasi atau materi pelajaran yang disajikan pada siswa, melalui penerimaan atau penemuan
(2) Belajar merupakan cara bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang ada.
Bentuk belajar matematika dapat berupa terapan belajar bermakna dimana siswa pada tingkat belajar pertama, berusaha menemukan sendiri sebagian atau seluruh materi yang diajarkan. Pada tingkat belajar kedua, siswa sudah berusaha menghubungkan atau mengaitkan informasi.
Bruner mengungkapkan bahwa belajar suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru di luar informasi yang diberikan kepada dirinya. Sebagai contoh, seseorang siswa yang mempelajari bilangan prima akan bisa menemukan berbagai hal penting dan menarik tentang bilangan prima, sekalipun pada awal guru hanya memberikan sedikit informasi tentang bilangan prima kepada siswa
tersebut. Teori Bruner tentang kegiatan belajar manusia tidak terkait dengan umur atau tahap perkembangan.
Menurut Bruner, proses belajar akan berlangsung secara optimal jika proses pembelajaran diawali dengan tahap enaktif, kemudian jika tahap belajar yang pertama ini dirasa cukup, siswa beralih ke kegiatan belajar yang kedua, yaitu tahap belajar dengan menggunakan modus representasi ikonik. Selanjutnya tahap belajar itu
diteruskan dengan kegiatan belajar tahap ketiga, yaitu tahap belajar dengan menggunakan modus representasi simbolik. Sebagai contoh, dalam mempelajari penjumlahan bilangan cacah, pembelajaran akan terjadi secara optimal jika mulamula siswa mempelajari hal itu dengan menggunakan benda-benda konkret (misalnya
menggabungkan 3 kelereng dengan 2 kelereng dan kemudian menghitung banyaknya kelereng semuanya). Kemudian, kegiatan belajar dilanjutkan dengan menggunakan gambar atau diagram tersebut). Pada tahap yang kedua siswa bias menggunakan penjumlahan itu dengan menggunakan pembayangan visual dari kelereng tersebut.
Pada tahap berikutnya, siswa melakukan penjumlahan kedua bilangan itu dengan menggunakan lambang-lambang bilangan, yaitu; 3 + 2 = 5.
Pembelajaran menurut Bruner adalah siswa belajar melalui keterlibatan aktif dengan lonsep-konsep dan prinsip-prinsip dalam memecahkan masalah dan guru berfungsi sebagai motivator bagi siswqa dalam mendapatkan pengalaman yang memungkinkan mereka menemukan dan memecahkan masalah.
Belajar menurut Robert M. Gagne, yaitu kemampuan-kemampuan atau (capabilies) adalah sebagai hasil-hasil belajar. Hasil belajar matematika dapat berupa ketrampilan intelektual dan mampu melakukan strategi kognitif. Belajar oleh Gagne dikelompokkan ke dalam tipe yaitu:
1. Isyarat adalah kegiatan yang terjadi secara tidak disadari. Sebagai akibat dari adanya suatu stimulus tertentu. Sebagai contoh, jika seseorang mendapatkan komentar bernada positif dari guru matematika. Sebaliknya, jika seseorang siswa mendapat sesuatu komentar yang bernada negatif dari seorang guru, secara tidak sadar siswa akan cenderung tidak menyukai pelajaran yang dipegang oleh guru
tersebut.
2. Stimulus respon adalah kegiatan belajar yang terjadi secara disadari yang berupa dilakukannya sesuatu kegiatan fisik sebagai suatau reaksi atas adanya suatu stimulus tertentu. Sebagai contoh, pada waktu para siswa diberi tugas dari guru yang hasilnya harus dikumpulkan, seseorang siswa mungkin secara sadar
berusaha untuk menuliskan hasil pelaksanaan tugas itu dengan rapi, sebab menurut pengalaman yang ia miliki di mas lalu, suatu pekerjaan yang ditulis secara rapi cenderung mendapatkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan pekerjaan yang tidak ditulis dengan rapi sekalipun isi kedua pekerjaan itu sama.
3. Rangkaian gerak merupakan kegiatan yang terdiri atas dua gerakan fisik atau lebih yang dirangkai menjadi satu secara berurutan dalam upaya untuk mencapai sesuatu tujuan tertentu. Sebagai contoh, kegiatan melukis garis bagi pada suatu sudut merupakan suatu kegiatan yang terdiri atas beberapa gerakan fisik yang
dilakukan secara berurutan, sejak dari pembuatan suatu busur lingkaran yang terpusat di titik tersebut sampai pembuatan suatu busur lingkaran yang terpusat di titik tersebut sampai pembuatan garis bagi yang dimaksud.
4. Rangkian verbal merupakan kegiatan merangkai kata-kata atau kalimat-kalimat secara bermakna, termasuk menghubungkan kata-kata atau kalimat-kalimat dengan objek-objek tertentu. Misalnya, kegiatan mendeskripsikan sifat-sifat suatu bangun geometri (persegi panjang, belah ketupat dan lain-lain) kegiatan menyebutkan nama benda-benda tertentu dan sebagainya.
5. Membedakan merupakankegiatan mengamati perbedaan antara sesuatu objek yang satu dengan sesuatu objek yang lain, misalnya membedakan lambing 2 dengan lambing 5, membedakan bilangan built dengan bilangan cacah, mencermati perbedaan antara prosedur mencari FPB dengan prosedur mencari
KPK dan sebagainya.
6. Pembentukan aturan adalah pernyataan yang memberikan petunjuk kepada individu bagaimana harus bertindak dalam menghadapi situasi-situasi tertentu. Belajar atauran adalah kegiatan memehami pernyataan-pernyataan dan sekaligus menggunakannya pada situasi-situasi yang sesuai. Contohnya untuk sebaran dua
real a dan b berlaku: ax b = b x a.
7. Pemecahan masalah merupakan kegiatan belajar yang paling kompleks. Suatu soal dikatakan merupakan masalah bagi seseorang apabila orang itu memahami soal tersebut, dalam arti mengetahui apa yang diketahui dan apa yang diminta dalam soal itu dan belum mendapatkan suatu cara untuk memecahkan soal itu.
Berdasarkan teori diatas dapat diambil kesimpulan bahwa:
1. Belajar matematika pada siswa SD berada pada tahapan operasional konkrit
dimana siswa belajar dengan berpikir rasional dan mampu menetatpkan operasioperasi
logis pada masalah kongkrit yang terikat pengalaman, karena anak
belum mampu berpikir secara abstrak. Keunggulan pada tahap ini anak
mempunyai kemampuan-kemampuan tertentu untuk memecahkan masalah-masah
yang sebelumnya tidak dapat dipecahkan secara benar.
2. Teori-teori tersebut sama menekankan pada proses belajar penemuan. Piaget
menyebutnya sebagai tahapan serasi, yaitu siswa belajar matematika maka siswa
harus menemukan sendiri seluruh atau sebagian materi yaitu mengaitkannya
dengan materi pelajaran matematika yang lain untuk membentuk materi
pelajaran baru.
3. Belajar matematika dengan cara mencoba-coba dan hafalan informasi baru
tanpa mengaitkan informasi atau konsep yang ada ke dalam struktur kognitifnya
kurang berhasil manfaatnya.
4. Belajar matematika akan menarik dan diperhatikan jika penanaman konsep pada
siswa tidak mengalami kekeliruan. Pada langkah-langkah permulaan belajar
konsep pengertian akan lebih melekat apabila kegiatan yang menunjukkan
representrasi konsep itu dilakukan siswa sendiri untuk menghindri distorsi.
Misalnya apabila guru atau siswa ingin menunjukkan arti 2, siswa sendiri supaya
menyajikan sebuah himpunan dengan dua anggota.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar