Mengajar bagi guru memang bukan pekerjaan mudah,bahkan bisa dikatakan rumit, karena bukan saja guru harus tahu banyak tentang bahan pelajaran dan menguasainya,tetapi juga harus faham tentang murid-muridnya dan proses belajar mengajar di kelas, yang meliputi mendesain bahan pelajaran, memberikan tugas, menilai proses dan hasil belajar siswa dan sekaligus menegakan disiplin dan melakukan kegiatan
Mengajar ialah melatih ketrampilan, menyampaikan pengetahuan, membentuk sikap dan memindahkan nilai-nilai. Oleh karena itu bisa dikatakan mengajar adalah membuat perubahan pada diri siswa,yang menyangkut pada pengetahuannya dan kepribadiannya,sehingga guru dikatakan berhasil dalam pembelajarannya apabila guru tersebut mampu mentransfer pengetahuannya dan mampu merubah prilaku siswa dari yang kurang baik menjadi baik.
Setiap anak memiliki kemampuan atau kelebihan yang berbeda-beda, begitu pula dengan kekurangan atau ketidak mampuannya. Dari berbagai kekurangan atau ketidak mampuan yang menjadi masalah bagi siswa salah satunya adalah siswa tidak mampu mengikuti pelajaran dengan baik,atau nilainya selalu rendah.Hal itu merupakan masalah bagi siswa dan tugas guru untuk dapat membantu menyelesaikannya.
Dengan demikian kita sebagai pendidik dan pembimbing sekaligus orang tua mereka, harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada anak didik kita .Dan sudahkah kita menjadi guru yang baik seperti yang diharapkan oleh siswa.
Mengajar dikatakan efektif apabila dalam prosesnya meliputi tiga langkah, yaitu langkah sebelum mengajar,langkah pelaksanaan mengajar dan langkah sesudah mengajar.Langkah sebelum mengajar meliputi membuat perangkat,menentukan tujuan pembelajaran,menentukan model pembelajaran.Langkah pelaksanaan mengajar,langkah ini berupa pelaksanaan model pembelajaran dan penerapan setrategi yang telah dirancang
Untuk membawa murid mencapai tujuan.Langkah sesudah mengajar, langkah ini berupa pengukuran dan penilaian hasil mengajar sehubungan dengan tujuan yang telah ditetapkan oleh guru.Dari proses penilaian inilah kegiatan guru dapat dilihat efektif atau tidak proses pengajaran yang diberikan oleh guru,dan berhasil tidaknya siswa dalam mengikuti pengajaran.
Guru dalam menghadapi siswa yang mengalami kesulitan belajar sering menggunakan cara kekerasan,bahkan dengan emosi dan antagonis, dengan alasan penegkan disiplin.
Dalam Teori Antagonistik disebutkan konflik tak mungkuin dapat terdamaikan,karena biang konflik berasal dari seseorang yang menuruti perasaan dan hawa nafsu serta mengutamakan kekuasaan dan penguasaan seseorang terhadap orang lain. Jadi seseorang yang bersikap dan memakai cara antagonistik, maka yang bersangkutan selalu bertindak kasar dalam menyelesaikan suatu masalah.Oleh kerena itu apabila guru pengajarannya atau dalam menghadapi siswa yang bermasalah dengan menggunakan sikap yang mencerminkan antagonistic, maka guru selamanya tidak mungkin dapat menyelesaikan masalah masalah anak didiknya dengan baik, bahkan jika seorang guru yang tidak menyadari bahwa yang dilakukan itu kurang benar,maka nantinya akan mengarah pada tindak kekerasan guru terhadap siswa,dan dapat digolongkan dengan pelanggaran . Dampak yang akan muncul dari kekerasan akan melahirkan pesimisme dan apatisme dalam sebuah generasi. Selain itu terjadi proses ketakutan dalam diri anak untuk menciptakan ide-ide yang inovatif dan kreatif. Kepincangan psikologis ini dapat dilihat pada anak-anak sekolah saat ini yang cenderung pasif dan takut berbicara dimuka kelas,pendiam dan mbolos ketika guru galak dan bengis dalam mengajarnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar