Laman

Animal Text Generator at TextSpace.net

Sabtu, 25 Juni 2011

KUMON


KUMON

*      Asal Usul Kumon
Berawal sekitar 50 tahun yang lalu di Jepang saat Takeshi, seorang anak laki-laki yang duduk di kelas 2 SD, pulang ke rumah dengan membawa kertas ulangan disakunya dengan nilai yang lebih jelek dari biasanya. Saat ibunya menemukan kertas tersebut, dia sangat khawatir kalau putranya akan mendapat nilai matematika yang lebih jelek lagi sehingga sang ibu segera mendiskusikannya dengan ayah Takeshi.
Ayah dari anak laki-laki tersebut adalah Toru Kumon, yang pada saat itu adalah seorang guru matematika SMA dengan pengalaman mengajar lebih dari 20 tahun. Beliau melakukan pendekatan yang berbeda – beliau tidak mengajari putranya, akan tetapi setiap malam membuat lembar kerja matematika untuk dikerjakan oleh Takeshi secara mandiri pada keesokan harinya. Sasaran dari lembar kerja itu adalah untuk membantu putranya mengembangkan kemampuan berhitung sekaligus mengembangkan kebiasaan belajar secara mandiri.
Toru kumon percaya bahwa menguasai berhitung adalah kunci agar putranya dapat maju ke materi matematika tingkat SMA secepat mungkin. Dia merasa bahwa hal ini akan membuat Takeshi melewati hati-harinya di SMA dengan nyaman dan masuk ke universitas pilihannya tanpa harus belajar dengan penuh ketakutan. Dia juga percaya bahwa Takeshi akan mampu terus belajra secara mandiri setelah masuk universitas dan tetap unggul dalam arti yang sesungguhnya.
Takeshi diminta untuk mengerjakan lembar kerja secara mandiri selama 30 menit setiap harinya. Toru memeriksanya pada keesokan harinya dan meminta Takeshi untuk melakukan perbaikan pada hari berikutnya. Takeshi memulai dari soal-soal penjumlahan sederhana pada saat kelas dua, akan tetapi saat memasuki kelas enam ia sudah maju ke materi SMA seperti kalkulus, diferensial dan integral.
Diilhami oleh hasil luar biasa yang telah dicapai puteranya dan atas permintaan para tetangga akhirnya Toru Kumon memutuskan untuk membuka kelas dirumahnya. Pada 1958, hanya empat tahun setelah kelas pertamanya dibuka, kantor pertama Osaka Institute of Mathematics didirikan di Osaka, dan ratusan siswa belajar disana kebanyakan karena promosi dari mulut ke mulut.
Inilah awal mula Metode kumon. Dimulai dari kesederhanaan, Kumon saat ini berada di 46 negara di seluruh dunia, dengan jutaan anak mengerjakan lembar kerja setiap harinya. Kami percaya bahwa setiap anak, tanpa memandang usia atau tingkatan kelas memiliki potensi yang tiada batas dan apa yang mungkin untuk seorang anak adalah mungkin untuk anak-anak lainnya.

*      Kelebihan kumon
1)      Bimbingan Perseorangan
Berbeda dgn kursus-kursus lain pd umumnya yang memberikan pelajaran “sama rata” kepada setiap anak, kumon membimbing anak secara perseorangan sesuai kemampuan mereka masing-masing sehingga mereka memiliki kemampuan akademik dasar yang baik dan potensi dapat berkembang secara maksimal.
2)      Small Step
Kumon menggunakan bahan pelajaran yang disusun secara efektif, sistematis dan dalam step-step kecil (small step) sehingga anak-anak tidak merasa kesulitan ketika maju ke tingkat yang lebih tinggi.
3)      Kemandirian Belajar
Di kumon anak belajar “cara belajar yang benar” (learning how to learn) sehingga tumbuh sikap belajar yang baik. Anak tidak menerima pelajaran secara sepihak dari pebimbing, melainkan dilatih untuk memahami dan mengerjakan soal dengan kemampuannya sendiri. Cara belajar seperti ini akan membentuk kemandirian dalam belajar.


*      Kekurangan kumon
Kejadian-kejadian semacam itu dilatarbelakangi oleh beberapa faktor yaitu :
1.       Ketidaktahuan guru akan metode sempoa sehingga penolakan-penolakan tersebut
pada dasarnya adalah karena adanya keraguan seorang guru kepada apa yang dimiliki murid-muridnya yang memiliki cara pemecahan hitungan secara berbeda dengan apa-apa yang sudah menjadi kebiasaannya bertahun-tahun.
2.       Sikap guru yang kadang-kadang masih bersifat “tidak mau tahu” dengan hal-hal baru yang berkembang di sekitarnya. Sikap guru semacam ini akan menutup perkembangan ilmu pengetahuan dan tidak baik bagi perkembangan murid-muridnya.
 Adanya kekhawatiran guru apabila metode penyelesaian soal berbeda, maka akan menyulitkan siswa itu sendiri ketika mengerjakan soal ulangan bersama atau setidak-tidaknya khawatir akan menyalahi aturan-aturan metodologis yang sudah baku.

1 komentar: